1.PENGERTIAN
Bidah dalam Islam
Bid‘ah (Bahasa Arab: بدعة) dalam agama Islam berarti
sebuah perbuatan yang tidak pernah diperintahkan maupun dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAWtetapi banyak dilakukan oleh
masyarakat sekarang ini. Hukum dari bidaah ini adalah haram.
Perbuatan dimaksud ialah perbuatan baru atau penambahan dalam hubungannya
dengan peribadatan dalam arti sempit (ibadah mahdhah), yaitu ibadah yang tertentu
syarat dan rukunnya.
Bidah atau heresi adalah
perbuatan yang dikerjakan tidak menurut contoh yang sudah ditetapkan, termasuk
menambah atau mengurangi ketetapan.
Pemakaian kata tersebut di antaranya ada pada :
·
Firman Allah ta’ala :
بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ
” (Dialah Allah) Pencipta langit dan bumi.” (Q.s.2:117)
·
Firman Allah ta’ala : قُلْ
مَا كُنتُ بِدْعاً مِّنْ الرُّسُلِ
” Katakanlah (hai Muhammad), “ Aku bukanlah rasul yang pertama di
antara rosul-rosul.” (Q.s:46:9)
·
Perkataan اِبتدع فلانٌ بدعة
Maknanya: Dia telah merintis suatu cara yang belum pernah ada yang
mendahuluinya.
·
Perkataan هذاأمرٌبديعٌ
Maknanya: sesuatu yang dianggap baik yang kebaikannya belum pernah
ada yang menyerupai sebelumnya. Dari makna bahasa seperti itulah pengertian
bid’ah diambil oleh para ulama.
1.
Jadi membuat cara-cara baru
dengan tujuan agar orang lain mengikuti disebut bid’ah (dalam segi bahasa).
2.
Sesuatu perkerjaan yang
sebelumnya belum perna dikerjakan orang juga disebut bid’ah (dalam segi
bahasa).
3.
Terlebih lagi suatu perkara yang
disandarkan pada urusan ibadah (agama) tanpa adanya dalil syar’i (Al-Qur’an dan
As-Sunnah) dan tidak ada contohnya (tidak ditemukan perkara tersebut) pada
zaman Rosulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam maka inilah makna bid’ah sesungguhnya.
Secara umum, bid'ah bermakna melawan ajaran asli suatu agama
(artinya mencipta sesuatu yang baru dan disandarkan pada perkara agama/ibadah).
Para ulama salaf telah memberikan beberapa definisi bidah.
Definisi-definisi ini memiliki lafadl-lafadlnya berbeda-beda namun sebenarnya
memiliki kandungan makna yang sama.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,Bidah dalam agama adalah perkara yang
dianggap wajib maupun sunnah namun yang Allah dan rasul-Nya tidak syariatkan.
Adapun apa-apa yang Ia perintahkan baik perkara wajib maupun sunnah maka harus
diketahui dengan dalil-dalil syariat.
Imam Syathibi, bid'ah dalam agama adalah Satu jalan dalam agama
yang diciptakan menyamai syariat yang diniatkan dengan menempuhnya
bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah.
Ibnu Rajab, Bidah adalah mengada-adakan suatu perkara yang tidak
ada asalnya dalam syariat. Jika perkara-perkara baru tersebut bukan pada
syariat maka bukanlah bidah, walaupun bisa dikatakan bidah secara bahasa
Imam as-Suyuthi, beliau berkata, Bidah adalah sebuah ungkapan
tentang perbuatan yang menentang syariat dengan suatu perselisihan atau suatu
perbuatan yang menyebabkan menambah dan mengurangi ajaran syariat.
Dengan memperhatikan definisi-definisi ini akan nampak tanda-tanda
yang mendasar bagi batasan bidah secara syariat yang dapat dimunculkan ke dalam
beberapa point di bawah ini :
1.
Bahwa bidah adalah mengadakan
suatu perkara yang baru dalam agama. Adapun mengadakan suatu perkara yang tidak
diniatkan untuk agama tetapi semata diniatkan untuk terealisasinya maslahat
duniawi seperti mengadakan perindustrian dan alat-alat sekedar untuk
mendapatkan kemaslahatan manusia yang bersifat duniawi tidak dinamakan bidah.
2.
Bahwa bidah tidak mempunyai dasar
yang ditunjukkan syariat. Adapun apa yang ditunjukkan oleh kaidah-kaidah
syariat bukanlah bidah, walupun tidak ditentukan oleh nash secara khusus.
Misalnya adalah apa yang bisa kita lihat sekarang: orang yang membuat alat-alat
perang seperti kapal terbang,roket, tank atau selain itu dari sarana-sarana
perang modern yang diniatkan untuk mempersiapkan perang melawan orang-orang
kafir dan membela kaum muslimin maka perbuatannya bukanlah bidah. Bersamaan
dengan itu syariat tidak memberikan nash tertentu dan rasulullah tidak
mempergunakan senjata itu ketika bertempur melawan orang-orang kafir. Namun
demikian pembuatan alat-alat seperti itu masuk ke dalam keumuman firman Allah
taala,Dan persiapkanlah oleh kalian untuk mereka (musuh-musuh) kekuatan yang
kamu sanggupi.Demikian pula perbuatan-perbuatan lainnya. Maka setiap apa-apa yang
mempunyai asal dalam sariat termasuk bagian dari syariat bukan perkara bidah.
3.
Bahwa bidah semuanya tercela
(hadits Al 'Irbadh bin Sariyah dishahihkan oleh syaikh Al Albani di dalam Ash
Shahiihah no.937 dan al Irwa no.2455)
4.
Bahwa bidah dalam agama kadang-kadang
menambah dan kadang-kadang mengurangi syariat sebagaimana yang dikatakan oleh
Suyuthi di samping dibutuhkan pembatasan yaitu apakah motivasi adanya
penambahan itu agama. Adapun bila motivasi penambahan selain agama, bukanlah
bidah. Contohnya meninggalkan perkara wajib tanpa udzur, maka perbuatan ini
adalah tindakan maksiat bukan bidah. Demikian juga meninggalkan satu amalan
sunnah tidak dinamakan bidah. Masalah ini akan diterangkan nanti dengan
beberapa contohnya ketika membahas pembagian bidah. InsyaAllah.
Bidah merupakan pelanggaran yang sangat besar dari sisi melampaui
batasan-batasan hukum Allah dalam
membuat syariat, karena sangatlah jelas bahwa hal ini menyalahi dalam meyakini
kesempurnaan syariat.Menuduh Rasulullah Muhammad SAW menghianati risalah,
menuduh bahwa syariat Islam masih kurang dan membutuhkan tambahan serta belum
sempurna. Jadi secara umum dapat diketahui bahwa semua bid'ah dalam perkara
ibadah/agama adalah haram atau dilarang sesuai kaedah ushul fiqih bahwa hukum
asal ibadah adalah haram kecuali bila ada perintah dan tidaklah tepat pula
penggunaan istilah bid'ah hasanah jika dikaitkan dengan ibadah atau agama
sebagaimana pandangan orang banyak, namun masih relevan jika dikaitkan dengan
hal-hal baru selama itu berupa urusan keduniawian murni misal dulu orang
berpergian dengan unta sekarang dengan mobil, maka mobil ini adalah bid'ah
namun bid'ah secara bahasa bukan definisi bid'ah secara istilah syariat dan
contoh penggunaan sendok makan, mobil, mikrofon, pesawat terbang pada masa kini
yang dulunya tidak ada inilah yang hakekatnya bid'ah hasanah. Dan contoh-contoh
perkara ini tiada lain merupakan bagian dari perkara Ijtihadiyah
SYIRIK
Syirik yaitu menyamakan selain
Allah dengan Allah dalam Rububiyyah dan Uluhiyyah Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Umumnya menyekutukan dalam Uluhiyyah Allah, yaitu hal-hal yang merupakan
kekhususan bagi Allah, seperti berdo'a kepada selain Allah disamping berdo'a
kepada Allah, atau memalingkan suatu bentuk ibadah seperti menyembelih
(kurban), bernadzar, berdo'a dan sebagainya kepada selainNya.
Karena itu, barangsiapa menyembah selain Allah berarti ia
meletakkan ibadah tidak pada tempatnya dan memberikannya kepada yang tidak
berhak, dan itu merupakan kezhaliman yang paling besar.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman. "Artinya :
Sesungguhnya menyekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang
besar"[ Luqman: 13]
Allah tidak akan mengampuni orang yang berbuat syirik kepadaNya,
jika ia meninggal dunia dalam kemusyrikannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala
berfirman. "Artinya : Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa
syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi
siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka
sungguh ia telah berbuat dosa yang besar".[An-Nisaa': 48]
Surga-pun Diharamkan Atas Orang Musyrik. Allah Subhanahu wa Ta'ala
berfirman.
Artinya : Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan)
Allah, maka pasti Allah mengharamkan Surga kepadanya, dan tempatnya ialah
Neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun"[
Al-Maa'idah: 72]
Syirik Menghapuskan Pahala Segala Amal Kebaikan. Allah Azza wa
Jalla berfirman.
Artinya : Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah
dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan"[Al-An'aam: 88]
Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala. "Artinya : Dan
sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (Nabi-Nabi) sebelummu:
"Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah
kamu termasuk orang-orang yang merugi"[Az-Zumar: 65]
Syirik adalah dosa besar yang paling besar, kezhaliman yang paling zhalim dan kemungkaran yang paling mungkar. masuk neraka
JENIS-JENIS
SYIRIK
Syirik Ada Dua Jenis : Syirik Besar dan Syirik Kecil.
1. Syirik Besar
Syirik besar bisa mengeluarkan pelakunya dari agama Islam dan
menjadikannya kekal di dalam Neraka, jika ia meninggal dunia dan belum
bertaubat daripadanya.
Syirik besar adalah memalingkan sesuatu bentuk ibadah kepada
selain Allah, seperti berdo'a kepada selain Allah atau mendekatkan diri
kepadanya dengan penyembelihan kurban atau nadzar untuk selain Allah, baik
untuk kuburan, jin atau syaitan, atau mengharap sesuatu selain Allah, yang
tidak kuasa memberikan manfaat maupun mudharat.
Syirik Besar Itu Ada Empat Macam.
[a]. Syirik Do'a, yaitu di samping dia berdo'a kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala, ia juga berdo'a kepada selainNya.
[b]. Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu
ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta'ala
[c]. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal
maksiyat kepada Allah
[d]. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah
dengan Allah dalam hal kecintaan.
2. Syirik Kecil.
Syirik kecil tidak menjadikan
pelakunya keluar dari agama Islam, tetapi ia mengurangi tauhid dan merupakan
wasilah (perantara) kepada syirik besar.
Syirik Kecil Ada Dua Macam.
[a]. Syirik Zhahir (Nyata), yaitu syirik kecil yang dalam bentuk
ucapan dan perbuatan. Dalam bentuk ucapan misalnya, bersumpah dengan nama
selain Allah.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Barangsiapa bersumpah dengan nama selain
Allah, maka ia telah berbuat kufur atau syirik"
Qutailah Radhiyallahuma menuturkan bahwa ada seorang Yahudi yang
datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan berkata:
"Sesungguhnya kamu sekalian melakukan perbuatan syirik. Kamu mengucapkan:
"Atas kehendak Allah dan kehendakmu" dan mengucapkan: "Demi
Ka'bah". Maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan para
Shahabat apabila hendak bersumpah supaya mengucapkan, "Demi Allah Pemilik
Ka'bah" dan mengucapkan: "Atas kehendak Allah kemudian atas
kehendakmu"
Syirik dalam bentuk ucapan, yaitu perkataan. "Kalau bukan
karena kehendak Allah dan kehendak fulan" Ucapan tersebut salah, dan yang
benar adalah. "Kalau bukan karena kehendak Allah, kemudian karena kehendak
si fulan"
Kata (kemudian) menunjukkan tertib berurutan, yang berarti
menjadikan kehendak hamba mengikuti kehendak Allah.
[b]. Syirik Khafi (Tersembunyi), yaitu syirik dalam hal keinginan
dan niat, seperti riya' (ingin dipuji orang) dan sum'ah (ingin didengar orang)
dan lainnya.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda.
"Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah
syirik kecil. "Mereka (para Shahabat) bertanya: "Apakah syirik kecil
itu, ya Rasulullah?" .Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab:
"Yaitu riya'"
Pengertian khurafat dalam Islam
Khurafat ialah semua cerita sama ada rekaan atau khayalan, ajaran-ajaran, pantang-larang, adat istiadat, ramalan-ramalan, pemujaan atau kepercayaan yang menyimpang dari ajaran Islam
Berdasarkan pengertian di atas, khurafat mencakup cerita dan perbuatan yang direka-reka dan bersifat dusta. Begitu juga dengan pemikiran yang direka-reka merupakan salah satu bentuk khurafat.
TAKHAYUL
Secara
bahasa, berasal dari kata khayal yang berarti: apa yang tergambar pada
seseorang mengenai suatu hal baik dalam keadaan sadar atau sedang bermimpi.
Dari
istilah takhayul tersebut ada dua hal yang termasuk dalam kategori talhayul,
yaitu:
1.
Kekuatan ingatan yang yang terbentuk berdasarkan gambar indrawi dengan segala
jenisnya, (seperti: pandangan, pendengaran, pancaroba, penciuman) setelah
hilangnya sesuatu yang dapat diindera tersebut dari panca indra kita.
2.
Kekuatan ingatan lainnya yang disandarkan pada gambar idrawi, kemudian satu
dari unsurnya menjadi sebuah gambar yang baru. Gambar baru tersebut bisa jadi
satu hal yang benar-benar terjadi, atau hal yang diluar kebiasaan
(kemustahilan). Seperti kisah seribu satu malam, Nyai Roro Kidul dan
cerita-cerita khurafat lainnya.
"Kami
tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah
dengan sedekat-dekatnya"... (QS. 39:3).
Ada beberapa cara agar kita bisa terhindar dari bid’ah,kesyirikan,khurafat,takhayul
di antaranya adalah:
1. Dengan mengikhlaskan segala ibadah dan amal shalih kita hanya untuk mencari ridha Allah ta'ala semata.
Allah ta’ala berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
“Mereka tidaklah diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dan meninggalkan kesyirikan (hanif).” [QS Al Bayyinah: 5]
Di dalam hadits Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
إنما الأعمال بالنية وإنما لامرئ ما نوى
“Sesungguhnya amalan itu tergantung niat dan setiap orang mendapatkan (ganjaran) sesuai dengan apa yang dia niatkan.” [HR Al Bukhari (6689) dan Muslim (1907)]
2. Mempelajari ilmu tauhid yang murni dan benar sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barangsiapa yang Allah menghendaki padanya kebaikan maka Allah akan memahamkannya di dalam perkara agama.” [HR Al Bukhari (71) dan Muslim (1037)]
Hadits di atas dengan jelas menunjukkan bahwa kunci untuk mendapatkan kebaikan agama adalah dengan mempelajari ilmu agama, dan kebaikan yang paling pokok adalah tauhid.
3. Mempelajari lawan dari tauhid itu, yaitu syirik, baik itu definisinya, jenis-jenisnya, dan contoh-contohnya. Karena untuk memmahami sesuatu itu terkadang kita juga harus mengenal lawannya. Lawan dari tauhid adalah syirik dan lawan dari sunnah adalah bid'ah.
Seorang sahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang bernama Hudzaifah ibnul Yaman radhiallahu ‘anhu berkata:
كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي
“Dahulu orang-orang bertanya kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلمtentang perkara kebaikan, sedangkan saya bertanya kepada beliau tentang perkara kejelekan karena takut akan menimpaku.” [HR Al Bukhari (3606) dan Muslim (1847)]
Seorang penyair berkata:
عرفت الشر لا للشر لكن لتوقيه ... ومن لا يعرف الشر من الناس يقع فيه
“Aku mempelajari kejelekan bukanlah untuk melakukan kejelekan itu, akan tetapi untuk menghindarinya. Barangsiapa yang tidak mempelajari kejelekan (yang dilakukan) manusia, maka dia akan terjatuh ke dalamnya.”
4. Memperbanyak doa kepada Allah agar diberikan keistiqomahan (keteguhan) di atas tauhid dan sunnah dan agar dijauhkan dari segala bentuk kesyirikan dan kebid'ahan baik yang kita ketahui ataupun tidak, baik yang kita sadari ataupun tidak.
Salah satu doa yang disebutkan oleh Allah ta’ala di dalam Al Qur`an adalah:
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
“(Mereka berdoa): “Wahai Rabb kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau. Sesungguhnya Engkau-lah Al Wahhab (Maha Pemberi).” [QS Al Imran: 8]
5. Bergaul dengan orang-orang yang lurus dan teguh agamanya (ahlussunnah) dan menghindari pergaulan dengan orang-orang yang melakukan kesyirikan agar tidak terpengaruh dengan perbuatan mereka tersebut.
Hal inilah yang dicontohkan oleh para nabi dan rasul, di antaranya adalah Nabiyullah Ibrahim صلى الله عليه وسلم sebagaimana yang diceritakan oleh Allah di dalam Al Quran:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kalian dari daripada apa yang kalian sembah selain Allah. Kami mengingkari (perbuatan) kalian dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman hanya kepada Allah saja.” [QS Al Mumtahanah: 4]
Demikianlah beberapa cara yang bisa ditempuh untuk menghindari kesyirikan. Sebagai tambahan, cara-cara di atas juga bisa diterapkan untuk menghindari perkara-perkara bid’ah.
1. Dengan mengikhlaskan segala ibadah dan amal shalih kita hanya untuk mencari ridha Allah ta'ala semata.
Allah ta’ala berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
“Mereka tidaklah diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dan meninggalkan kesyirikan (hanif).” [QS Al Bayyinah: 5]
Di dalam hadits Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
إنما الأعمال بالنية وإنما لامرئ ما نوى
“Sesungguhnya amalan itu tergantung niat dan setiap orang mendapatkan (ganjaran) sesuai dengan apa yang dia niatkan.” [HR Al Bukhari (6689) dan Muslim (1907)]
2. Mempelajari ilmu tauhid yang murni dan benar sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barangsiapa yang Allah menghendaki padanya kebaikan maka Allah akan memahamkannya di dalam perkara agama.” [HR Al Bukhari (71) dan Muslim (1037)]
Hadits di atas dengan jelas menunjukkan bahwa kunci untuk mendapatkan kebaikan agama adalah dengan mempelajari ilmu agama, dan kebaikan yang paling pokok adalah tauhid.
3. Mempelajari lawan dari tauhid itu, yaitu syirik, baik itu definisinya, jenis-jenisnya, dan contoh-contohnya. Karena untuk memmahami sesuatu itu terkadang kita juga harus mengenal lawannya. Lawan dari tauhid adalah syirik dan lawan dari sunnah adalah bid'ah.
Seorang sahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang bernama Hudzaifah ibnul Yaman radhiallahu ‘anhu berkata:
كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي
“Dahulu orang-orang bertanya kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلمtentang perkara kebaikan, sedangkan saya bertanya kepada beliau tentang perkara kejelekan karena takut akan menimpaku.” [HR Al Bukhari (3606) dan Muslim (1847)]
Seorang penyair berkata:
عرفت الشر لا للشر لكن لتوقيه ... ومن لا يعرف الشر من الناس يقع فيه
“Aku mempelajari kejelekan bukanlah untuk melakukan kejelekan itu, akan tetapi untuk menghindarinya. Barangsiapa yang tidak mempelajari kejelekan (yang dilakukan) manusia, maka dia akan terjatuh ke dalamnya.”
4. Memperbanyak doa kepada Allah agar diberikan keistiqomahan (keteguhan) di atas tauhid dan sunnah dan agar dijauhkan dari segala bentuk kesyirikan dan kebid'ahan baik yang kita ketahui ataupun tidak, baik yang kita sadari ataupun tidak.
Salah satu doa yang disebutkan oleh Allah ta’ala di dalam Al Qur`an adalah:
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
“(Mereka berdoa): “Wahai Rabb kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau. Sesungguhnya Engkau-lah Al Wahhab (Maha Pemberi).” [QS Al Imran: 8]
5. Bergaul dengan orang-orang yang lurus dan teguh agamanya (ahlussunnah) dan menghindari pergaulan dengan orang-orang yang melakukan kesyirikan agar tidak terpengaruh dengan perbuatan mereka tersebut.
Hal inilah yang dicontohkan oleh para nabi dan rasul, di antaranya adalah Nabiyullah Ibrahim صلى الله عليه وسلم sebagaimana yang diceritakan oleh Allah di dalam Al Quran:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kalian dari daripada apa yang kalian sembah selain Allah. Kami mengingkari (perbuatan) kalian dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman hanya kepada Allah saja.” [QS Al Mumtahanah: 4]
Demikianlah beberapa cara yang bisa ditempuh untuk menghindari kesyirikan. Sebagai tambahan, cara-cara di atas juga bisa diterapkan untuk menghindari perkara-perkara bid’ah.